Melejitkan Semangat Ibadah
~Kiat
Melejitkan Semangat Ibadah~
1.
Mengenali penghambat Ibadah.
Sebagai manusia biasa,
kita sering dihinggapi perasaan yang silih berganti, naik turun atau kuat lemah.
Kondisi labil inilah yang membuat Ibadah kita jadi tak menentu. Kadang dalam menjalankan
shalat kita tepat waktu dan berusaha sekhusyuk mungkin. Akan tetapi dilain
waktu, shalat kita rasanya berat dan tak khusyuk sama sekali. Misalnya lagi,
sewaktu kita sedang dirundung malang dan dihimpit kesedihan, hamper tiap
tarikan napas selalu mengharap pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Namun
giliran kita dalam suasana bahagia, kita mudah saja melupakan Allah beserta
Rasul, serta nikmat-nikmat yang dikaruniakan-Nya.
Beberapa hal yang perlu
kita waspadai, baik dari sisi lahir maupun batin.
A.
Hambatan Lahiriah
Rintangan jenis ini
dapat dimengerti sebagai suatu gangguan yang disebabkan oleh kondisi yang
tampak (lahir), yang umumnya ada di sekililing kita. Hambatan ini terkesan
remeh, tetapi sebenarnya menjadi musuh terselubung yang membuat kualitas ibadah
kita menurun bahkan sama sekali tidak memiliki semangat untuk melakukaknya.
Faktor-faktor yang melatarbelakanginya yaitu :
1.
Mencintai
dunia dan takut mati
Mencintai
dunia merupakan hambatan karena orientasi hidup kita telah beganti, bukan untuk
Allah tetapi untuk kesenangan semu. Kita akan mudah melupakan pahala dan dosa;
surga dan neraka. Di kepala kita hanya terpikir bagaiman bisa sukses dengan
segala cara. Parahnya, kita mudah terjebak dalam mimpi-mimpi panjang yang tidak
ada kaitannya dengan keinginan kuat untuk mengabdi kepada-Nya.
Nabi
SAW mengingatkan, “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh
dunia akann dating mengerumuni kamu bagaikan orang-prang kelaparan mengerumuni
hidangan mereka.” Maka, salah seorang sahabat bertanya, “ Apakah karena jumlah
kami yang sedikit pada hari itu?” Nabi SAW, menjawab,”Bahkan, pada hari itu
jumlah kamu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di lautan, dan Allah akan
mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan
melemparkan ke dalam hatimu penyakit AL-WAHNU.”
Seorang sahabat bertanya, “ Apakah AL-WAHNU
itu, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Cinta dunia dan Takut mati.”
(H.R.
Abu Dawud dan Ahmad)
2.
Kurangnya
pemahaman dan pengalaman syari’at yang dianjurkan
Adakalanya
kita ingin menjalankan suatu ibadah, tapi terlanjur diurungkan karena kita
tidak tahu tata cara melakukannya. Ingin menjalankan shalat Tasbih, tapi karena
tidak tahu ilmunya, kita dengan mudah meninggalkannya. Melihat kenyataan ini, jika
kita melakukan ibadah tanpa ilmu, bias jadi akan terjadi kekeliruan yang
mengakibatkan ibadah tersebut sia-sia. Sebab ilmu adalah pintu bagi pembuka
bagi akal dan hati. Akan tetapi, yang paling utama adalah belajar ilmu agama
sebagai bekal bagi kehidupan kita nanti di akhirat.
Menurut
Nabi SAW, orang yang akan wafat sekalipun ia sedang menuntut ilmu maka Allah
akan memberinya kemuliaan di sisi-Nya. “Barang siapa yang kedatangan ajal,
sedang ia masih menuntut ilmu maka ia akan bertemu dengan Allah di mana tidak
ada jarak antara dia dan para nabi, kecuali satu derajat kenabian.” (H.R
Thabrani)
3.
Ujian
yang datang kepada anggota keluarga
Tanpa
sabar maka iman kita akan jadi sia-sia. Jangan sampai kita malah lari menuju
perbuatan-perbuatan yang mengundang murka-Nya. Inilah yang membuat ibadah kita
melemah. Menurut Nabi SAW,”Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan
besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah SWT jika mencintai suatu kaum maka Ia
akan mengujinya, barang siapa yang ridha akan ujian itu maka baginya keridhaan
Allah, dan barang siapa yang marah atau benci terhadap ujian tersebut maka
baginya kemurkaan Allah,’’ (H.R. Tirmidzi).
Dalam
hadist yang lain juga disebutkan, “Tidaklah seseorang menderita sakit karena
suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan
kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagai pohon yang menggugurkan
daun-daunnya.” (H.R. Bukhari Muslim)
4.
Lingkungan
yang tidak agamis
“Perumpamaan
teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah ibarat penjualminyak wangi dan
peniup tungku. Penjual minyak wangi bisa memberimu tanpa kita membeli, atau
engkau akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan peniup tungku bisa
membakar pakaianmu atau engkau akan mencium bau busuk darinya, “(H.R.
Bukhari Dan Muslim).
Hadist
ini tepat dihadapkan pada kenyataan social. Jika kita senang bergaul dengan
teman yang berakhlak jelek maka kita akan mengikutinya. Betapa banyak orang
yang baik menjadi rusak akhlaknya karena berteman dengan lingkungan yang tidak
mendukungnya berbuat amal shalih.
Sebaliknya,
jika bergaul dengan ahli ilmu, ustadz dan ulama, kita juga akan meniru
perbuatan baik mereka. Imam Ali r.a pernah berkata : “Hidupkanlah ketaatan
lewat bergaul dengan mereka yang menghidupkan ketaatan.”
5.
Menyenangi
makanan dan minuman haram
Nabi
SAW mengingatkan, “ Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka
lebih utama untuknya,” (H.R. At-Tirmidzi).
Diriwayatkan
oleh Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasullullah SAW bersabda, “sesungguhnya Allah
itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala
memerintah kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para Rasul.
Maka Allah Ta’ala berfirman, “wahai para
rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan,”(Q.S. Al-Mu’minun {23};172).
6.
Pendidikan
yang buruk (Salah Asuhan)
Pendidikan
merupakan aset penting bagi setiap muslim. Kita sering mendengar kemashuran
ulama-ulama rabbani dan orang-orang yang shalih yang awal mulanya memang
berasal dari keluarga taat beragama.
7.
Sibuk
karena pekerjaan hingga lalai beribadah
Nabi SAW
mengkhawatirkan kondisi ini, “Bukan kemiskinan yang aku bimbang menimpa kamu,
tetapi yang aku khawatirkan ialah dibentangkan di hadapan kamu kemewahan dunia
sebagaimana telah dibentangkan kepada umat sebelum kamu, lalu kamu
berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana umat dahulu, lalu membinasakan kamu
seperti umat dulu,”(H.R. Bukhari).
Sumber : Buku "Kiat Melejitkan Semangat Ibadah" karya Abdillah F. Hasan, penerbit : Citra Risalah
Sumber : Buku "Kiat Melejitkan Semangat Ibadah" karya Abdillah F. Hasan, penerbit : Citra Risalah
Komentar