Ajaran islam tentang puasa



Tentang puasa~
Ajaran islam tentang puasa : “Islam didirikan atas lima sendi, yaitu, syahadat (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya), mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan, dan pergi haji ke Baitul Haram).” (Hadist Muttafaqun ‘Alaih)
Perintah Puasa               “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah {2} : 183)
Pengertian Puasa                menurut H. Zaini Ibrahim dan M. Ridho Hisyam dalam karya mereka nikmatnya puasa meraih taqwa, puasa (shiyam) secara bahasa berarti mencegah atau menahan diri dari sesuatu (perbuatan) yang di inginkan. Menurut syara’ puasa adalah menahan diri dari atau mencegah makan dan minum dari apa-apa yang membatalkannya. Allah SWT berfirman, “Dan makan dan minumlah kalian hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam (fajar), kemudiansempurnakanlah puasa itu sampai dating malam.” (Q.S. Al-Baqarah {2} : 187)
Tujuan Puasa                Tujuan utamanya adalah terciptanya pribadi-pribadi yang bertakwa atau tegaknya sendi-sendi ketakwaan manusia. Dengan demikian, pribadi yang bertakwa adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah di mana pun mereka berada. Sebagaimana Nabi SAW bersabda, “yang paling banyak memasukkan sesorang kedalam surga adalah takwa kepada Allah SWT dan budi pekerti yang luhur.” (H.R. Tirmidzi)
Selain itu, tujuan lain dari puasa adalah upaya manusia untuk mematahkan gejolak nafsunya sendiri, dan perang terhadap bisikan kebatilan, baik yang dating dari nafsunya maupun yang dating dari syaitan. Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya syaitan mengalir pada diri manusia melalui aliran darah. Karena itu, sempitkanlah alirannya dengan berlapar.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Puasa adalah latihan ruh (riyadhah ruhiyah) agar manusia kembali sadar bahwa dirinya sejatinya adalah ruh yang diberi wadag atau wadah berupa jasad materi.
Adab Puasa                   Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah dalam karyanya Risalah Ramadhan menyebutkan adab-adab puasa itu sebagai berikut :
1.    Menjaga lisan dari perkataan kotor dan keji.                     
Nabi SAW bersabda, “barangsiapa tidak meninggalkan perkataan zur (umpat,dusta,fitnah, atau segenap perkataan yang hanya akan membikin keributan), serta tetap bersikap jahil maka tidak ada hajat bagi Allah, ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (H.R. Bukhari)
2.    Mengurangi porsi makan dan minum pada saat buka dan sahur.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar berbuka puasa dengan makanan yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Allah Ta’ala berfirman, “makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf {7} : 31 )


1.    Menjaga pandangan mata darihal-hal yang dilarang agama.

Orang yang berpuasa mesti mampu menjaga pandangan matanya dari hal yang dilarang oleh islam agar kesempurnaan ibadah tetap terjaga. Selain itu, kita mesti ingat bahwa setiap perbuatan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk dalam hal ini adalah mata. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban,” (Q.S. Al-Isra’ {17} : 36)
2.    Menjaga pendengaran dari hal-hal yang mengakibatkan dosa.
Salah satu cirri orang yang alim dan cerdas adalah ia bisa memilih untuk dirinya sendiri suatu pilihan yang berguna bagi perjalanan hidupnya. Termasuk apa saja yang mestinya ia dengar.
3.    Menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Orang yang berpuasa adalah pribadi yang tengah berjuang mengalahkan nafsu rendahnya sendiri, berupaya menjadi tuan atas gerak pikirannya sendiri agar tidak disusupi dan disetir oleh syaitan.
Jadi, pantaskah kita disemati predikat orang bertakwa sementara saat berpuasa anggota tubuh kita melakukan keburukan dan kejahatan?
4.    Menumbuhkan rasa harap dan cemas.
Puasa yang kita lakukan semata-mata hanya mengharap ridha Allah swt. Selama berpuasa tumbuhkanlah perasaan cemas karena ia akan mengantarkan kita pada suatu tingkatan yang disebut wara’.

Yang membatalkan puasa :
a.     Makan dan minum dengan sengaja
Rasulullah saw pernah bersabda, “Barangsiapa lupa bahwa ia sedang berpuasa lalu ia makan dan minum, hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)
b.    Jima’ (bersenggama)
Tentang hal ini Al-Hasan dan Al-Mujahid berkata, “Jika orang yang berpuasa itu bersetubuh karena lupa, maka puasanya tidak batal.”
c.     Memasukkan suatu benda ke lubang tubuh (jawf)
Yang dimaksud benda adalah sesuatu yang dapat terlihat oleh kasat mata. Dan, yang dimaksud lubang tubuh adalah mulut bagian dalam, hidung bagian dalam, telinga, anus, dan lubang kemaluan.
d.    Mengeluarkan mani (istimna’)
Yang membatalkan puasa karena mengeluarkan dengan sengaja, sedangkan jika mimpi basah tidak membatalkan puasa karena tidak sengaja.
e.     Haid dan nifas
f.      Sengaja muntah
g.     Murtad
Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am {6} : 88)
h.    Majnun (gila), meskipun hanya sebentar
Rasulullah saw bersabda “pena itu diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang gila sampai akalnya sehat, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh,” (H.R. Ahmad dan Imam Empat kecuali Tirmidzi. Hadist shahih menurut Hakim.)

Kesimpulan tidak batal puasa seseorang jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat atau air tanpa disengaja.


sumber : buku Dahsyatnya puasa sunnah - Abdullah Al-Fathani - penerbit : Citra Risalah
 

Komentar